Waktu

CALL CENTER 1500-580 SMS 0816500580

Zeda M. Martono : 8 Gerai Indomaret Dalam Genggamannya

Ketekunan Zeda M. Martono menggeluti bisnis waralaba membuahkan hasil menggembirakan. Ia kini memiliki 8 toko Indomaret. Bagaimana ia bisa sukses sebagai pengusaha waralaba?
pict-artikel-zeda-8gerai
Zeda M.Martono adalah investor franchise yang kini memiliki 8 gerai Indomaret. Ia mengawali bisnisnya sejak Agustus 2002 dengan membeli toko Indomaret di Kranggan, Cibubur. Saat itu Zeda masih karyawan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Ia merasa perlu memulai usaha sendiri, karena ia dan sesama rekannya karyawan BPPN telah mengetahui bahwa lembaga ini akan dibubarkan tahun 2004. Ketika masih bekerja di BPPN, kebetulan Indomaret dan Alfmart adalah klien Zeda, sehingga ia telah cukup mengetahui seluk beluk kedua jaringan minimarket ini. Tahun 2000, Zeda mulai menjajaki franchise mana yang akan dia ambil. Akhirnya ia memilih Indomaret, karena menurutnya, brand awareness-nya lebih kuat ketimbang Alfamart. Kelahiran Jakarta 19 Oktober 1970 ini menyadari bahwa menjadi karyawan terus menerus tidaklah enak. Sebagai pegawai, Zeda merasa sangat tergantung pada perusahaan tempatnya bekerja. Terlebih ia punya pengalaman keluar secara terpaksa dari Bank Dagang Nasional Indonesia yang dilikuidasi tahun 1998, sebelum akhirnya ia bergabung ke BPPN tahun 1998. Karena berbagai pengalaman itulah, Zeda ingin memiliki usaha sendiri. Namun, sebagai orang yang baru akan memulai usaha, saat itu Zeda belum berani memulia usaha yang terlalu beresiko, ia pun tentu perlu belajar banyak dan membutuhkan pembimbing. Karena itulah ia pilih menjalankan bisnis waralaba yang menurutnya beresiko lebih kecil daripada memulai segalanya dari nol. Dipilih Indomaret sebagai usaha franchise pertamanya, dijelaskan Zeda, kerena sebagai pemula ia perlu memilih usaha yang pasarnya sudah cukup jelas dan memang menjual produk yang menjadi kebutuhan banyak orang untuk mengurangi resiko usaha. "Kalau kebutuhan pokok dan obat itu marginnya memang tidak besar, tapi profitnya stabil. Coba saja lihat, meskipun kondisi sedang krisis, orang tetap membeli barang kebutuhan pokok dan obat. Mereka juga tidak pernah menawar untuk produk-produk itu," Zeda memaparkan argumennya. Lulusan Tekhnik Sipil Universitas Pancasila dan S-2 bidang pemasaran dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini juga mengakui, waralaba lain seperti restoran pada umumnya memiliki margin profit yang lebih besar dibanding ritel seperti Indomaret. Namun ia menilai, bisnis resto lebih banyak mengikuti tren. Jika sudah tidak lagi terlalu popular, dengan mudah pendapatannya turun drastis. Keputusannya mengambil alih toko Indomaret yang sudah jalan baik pun dimaksudkan untuk memperkecil pekerjaan mengawali bisnis dan risikonya. "Kalau memulai dari awal, saya harus melakukan survey dulu tentang bagaimana pasarnya, berapa sewa toko dan sebagainya. Bisa saja ketika saya telah membuka toko di suatu tempat, ternyata pasar di daerah itu kurang mendukung. Karena itu saya berusaha memotong risiko yang mungkin terjadi di awal dengan mengambil alih toko yang telah berjalan," katanya memberi alasan. Hanya saja, Zeda harus membayar lebih mahal dibanding jika ia memulai waralaba dari awal. Pasalnya ada goodwill yang harus dibayar oleh franchisee terkait kondisi toko yang telah berjalan baik. Namun, ia merasa hal itu lebih baik daripada menanggung risiko yang lebih besar, mengingat saat itu dirinya adalah seorang pemula di bisnis franchise. Selanjutnya, dalam waktu hanya berselang dua bulan, tepatnya Oktober 2002, Zeda kembali mengambil alih toko Indomaret di Vila Nusa Indah. Dan pada Desember 2002, ia kembali men-takeover gerai Indomaret di Pulo Gebang. Selanjutnya, ia membeli gerai Indomaret di Cempaka Putih. Ia baru mulai benar-benar dari awal ketika mendirikan toko Indomaret di Tangerang dan Serang. Saat ini Zeda memiliki toko di Kranggan, Vila Nusa Indah, Cempaka Putih, tiga toko di Tangerang dan dua toko di Serang. "Saya melihat potensi di Tangerang dan Serang bagus,"ujar ayah dua anak ini. Pada awal memasuki bisnis waralaba, semua bangunan toko yang digunakan Zeda adalah sewaan. "Strategi saya membeli bisnisnya dahulu, kalau saya membeli property (bangunannya) juga, uang saya hanya akan habis untuk property, padahal saya tidak memiliki uang yang cukup untuk semua itu."katanya. Saat itu, modal Zeda di bisnis waralaba juga benar-benar berasal dari kantong sendiri. Baru-baru ini saja ia meminjam ke bank setelah bisnisnya dirasa lebih stabil. Zeda merasa beruntung karena dirinya selalu dibimbing oleh pihak Indomaret dalam menjalankan usahanya sejak awal. Sebagai contoh, dalam hal momentum pengambilan franchise, ketika mengambil alih gerai Indomaret pertama kali pada Agustus 2002, sejak itu bersamaan dengan menjelang Lebaran, sehingga membuat penjualan tokonya naik secara signifikan. Selain itu, dalam hal kepegawaiaan, pada dasarnya semua pegawai di setiap toko Indomaret harus diseleksi dan diputuskan langsung oleh pihak Indomaret, bukan hanya oleh franchisee. Akan tetapi Zeda mengaku, ia pernah tidak menuruti saran dari pihak Indomaret terkait soal kepegawaian. Saat itu ia memperkerjakan seorang pegawai yang dinilai tidak layak oleh Indomaret, dengan maksud menolong orang tersebut. Pada akhirnya, terbukti Zeda pun mengalami sesuatu yang tidak baik dengan si pegawai, dan sejak itu dia tidak pernah lagi mencoba tidak menuruti aturan Indomaret. Baginya, kunci untuk dapat sukses dalam usaha franchise adalah menuruti semua aturan dan regulasi yang ditetapkan oleh pihak franchisor. Pasalnya, aturan-aturan itu pun pada akhirnya ditujukan bagi baiknya kinerja usaha milik franchisee. Di atas kertas, sebuah toko Indomaret dapat balik modal dalam waktu 44 bulan. Menurut Zeda, hal itu hanya merupakan pegangan, karena salah satu tokonya yang berlokasi di Anyer bisa balik modal hanya dalam waktu 22 bulan. Di sisi lain, ada pula toko milik Zeda yang berada di Jakarta, sudah hampir lima tahun belum balik modal lantaran persaingan sangat ketat dengan tiga toko Alfamart di sekitarnya. Ketika tiga toko Alfamart itu belum ada, omset toko Indomaret milik Zeda dapat mencapai 18 juta per hari, tetapi sekarang hanya Rp.6 juta. Bukan masalah bagi Zeda, sebab ia memiliki 8 toko yang secara keseluruhan performanya sangat baik. Meskipun satu tokonya membutuhkan waktu cukup lama balik modal, toko lainnya dapat menutupinya dengan payback period yang lebih cepat. "Jadi bisa ada subsidi silang dari satu toko dan toko lainnya," ujar Zeda. Hanya saja, untuk gerai Indomaret yang tidak punya prospek lagi, ia lebih memilih untuk menjualnya ke pihak lain. Toko Indomaret miliknya yang di Pulo Gebang, misalnya, sudah ia jual pada Desember 2007 karena tidak menguntungkan untuk jangka panjang. Ia menerangkan, biaya sewa toko di Pulo Gebang itu sangat tinggi, yaitu Rp.400 juta/lima tahun. Dan ia tidak mau ambil resiko lebih jauh lagi dengan tingginya biaya toko tersebut. Sekarang Zeda tidak mau lagi membeli secara takeover toko Indomaret, karena pihak Indomaret sendiri juga mendorong investornya yang sudah cukup matang agar mulai berinvestasi dari awal. Biaya investasi untuk sebuah toko Indomaret dari awal sekitar Rp.300 juta, sedangkan untuk toko yang sudah berjakan dan di takeover dari Indomaret harganya dapat mencapai Rp 400-600 juta untuk di daerah Jabodetabek. Sementara di luar Jabodetabek harga takeover dapat mencapai Rp 800-900 juta. Lebih mahalnya harga di luar Jabodetabek terkait dengan biaya-biaya yang masih lebih murah daripada Jabodetabek, sehingga keuntungan yang diperoleh toko pun bisa semakin tinggi. Ia menambahkan, kontribusi pendapatan terbesar usahanya berasal dari franchise yang berada di Serang, yaitu di Anyer dan Sunan Ampel. Di kedua tempat itu margin profit yang diperoleh masing-masing dapat mencapai 7 % per bulan. Sementara itu omset terendah tokonya Zeda sekitar Rp.7 juta/hari, dan yang paling tinggi Rp 13-14 juta/hari terutama toko Indomaret nya di Serang. Menurut Zeda, banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja tokonya. Banyaknya promo dari Indomaret dinilai Zeda sangat mempengaruhi kinerja toko. Jarang sekali Indomaret kosong dari promosi. Banyaknya promosi itulah yang akhirnya menjadikan pelanggan setia pada Indomaret. Faktor lainnya, komunikasi kami dengan mereka sangat baik," ujar Zeda. Tak kalah penting, mendengarkan keluhan dan saran para karyawannya. Ia juga berusaha menyampaikan kepada Manajer Area Indomaret mengenai bagaimana saran dari karyawannya itu. Sebab, bagaimanapun karyawan lebih mengetahui kondisi lapangan daripada dirinya sendiri. Karena itu, ia menambahkan, bisa saja saran yang dinilai benar-benar baik bagi kemajuan toko akan dituruti. Saat ini Zeda belum memiliki franchise lainnya kecuali Indomaret. Ia memang berminat untuk membuka franchise lainnya, misalnya restoran atau semacamnya, tetapi masih dalam tahap pencarian. Target Zeda sekarang adalah memiliki property (bangunan) toko Indomaret yang dia miliki lebih dulu. Ia berencana setelah semua tokonya yang sekarang berhasil dimiliki, barulah ia hendak membangun toko baru lagi, dan membeli propertinya lagi. Begitu seterusnya. Strategi itu, lanjut Zeda, terkait dengan kinerja tokonya yang masih saling menyubsidi silang satu sama lain. Tokonya di Tangerang yang berada di Tigaraksa baru akan balik modal, sedangkan Kirana baru balik modal dalam waktu 4,5 tahun lagi." Tapi ini kan dua titik ekstrem buat saya." Ia menegaskan. Saat ini, bangunan toko Indomaret yang telah dia miliki ada di Tangerang (Puri dan Kirana). Adapun yang Tigaraksa belum dimiliki, karena jangka waktu sewanya mencapai 10 tahun. (Kristiana Anissa, SWA edisi 16-26 Juli 2009)
Facebook Twitter Google Digg Reddit LinkedIn Pinterest StumbleUpon Email

Copyrights © 2014 - 2017 Indomaret. All Rights Reserved

PT. Indomarco Prismatama


Kantor Pusat:
Jl. Terusan Angkasa B2
Kav-1. Gunung Sahari,
Kemayoran.
Jakarta 10610
Telp. (021) 29559100