Yunky A.S. Sofyan : Cermat Menghitung Agar tak Buntung

Fakta bicara : Tak semua investor merengkuh laba dari waralaba. Butuh kehati-hatian agar investasi berjalan sesuai dengan rencana.

pict-artikel-cermat-yunky1

Para calon pembeli waralaba tampaknya belajar dari Yunky A.S. Sofyan yang sukses menjadi entrepreneur dengan membeli waralaba Indomaret. Yunky merupakan franchisee Indomaret tahun 2001. Pria kelahiran 1954 ini memilih pensiun dini dari Bulog tahun 2001. ” Saya pensiun di bawah usia 50 tahun. Tidak mendapat pesangon atau pensiunan, padahal saya sudah 17 tahun di Bulog,” ujar mantan Manajer Pengelola Koperasi Bulog. Yunky pernah ditawari kuliah lagi di Inggris kala masih di Bulog, tetapi justru memilih memegang jabatan manajer koperasi itu.

Setelah membaca buku Robert Kiyosaki, Yunky terinspirasi pindah kuadran. Karena tidak punya pensiunan, dia memberanikan diri meminjam uang kakaknya guna memulai bisnis dari nol. Nekat lho waktu itu, saya ambil franchise Indomaret.” Ujar ayah tiga anak ini. Perkenalan dengan Indomaret sebenarnya sudah lama, yakni sejak masih di Bulog. Maklum waktu itu Koperasi Bulog bekerjasama dengan Indomaret untuk membuka gerai ritel yang ternyata sukses. Dia tahu persis kinerjanya. “Dari pengalaman itulah saya berani berhenti dari Bulog untuk coba menjalankan bisnis ritel sendiri tahun 2001.” katanya. Gerai Indomaret pertama dibuka Yunky di daerah Jatake, Tangerang. Investasi yang dikeluarkan Rp 350 juta plus biaya sewa tempat. Franchise fee sekitar Rp 75 juta per lima tahun (jika ditambah PPn jadi 82,5 juta). Lalu, sewa tempat selama lima tahun Rp.175 juta. “jadi perlengkapan masih murah,” katanya. Dia mengenang gerai pertama itu bisa balik modal hanya dalam 18 bulan. Padahal janji franchisor BEP akan terjadi dalam 36 bulan. Wajar kalau Yunky kemudian makin antusias membuka gerai Indomaret lain lokasi. Dan kini dia sudah punya 6 cabang Indomaret, yaitu di Condet, Kalisari, Jatake, Balaraja Barat, Bandung dan Bogor. Rata-rata masing-masing gerai bisa BEP tidak lebih dari dua tahun. “Cukuplah yang saya punya, saya tidak mau rakus.” Tuturnya merendah. Yunky juga pernah membeli franchise Bakmi Japos hasil keuntungan di Indomaret. “Bakmi Japos tenggelam saya ikut tenggelam. Gerainya sudah ditutup sekarang.” ujarnya.

Setelah Bakmi Japos, Yunky mengambil franchise lain, Bolo-Bolo. Jadi, dia tidak kapok bisnis makanan walau rugi di Bakmi Japos. “Bolo-Bolo just so so, biasa saja,” imbuhnya. ” Terakhir saya ambil KSO Martabak Alim,” tuturnya seraya mengatakan, bisnis ini sedang booming. Targetnya, bisa membuka gerai 10 gerai Martabak Alim. Biaya total mengambil KSO martabak ini Rp.200 juta/gerai- sudah termasuk biaya sewa tempat. Dia yakin Martabak Alim bisa BEP kurang dari setahun.

Apa kiat Yunky dalam membeli waralaba? “Saya pakai feeling saja. Kalau saya gagal di Bakmi Japos, saya rasa itu bagian dari resiko bisnis. Kalau kita untung, sebagai muslim berarti kita membayar zakat lebih banyak. Kalau rugi berarti zakat kita belum beres.” Ujar pria yang membawahkan 60 karyawan itu. Yang jelas, kini Yunky sudah bisa membeli property berkat pendapatan dari waralaba Indomaret. Dari 6 gerai Indomaretnya, tiga diantaranya sudah menempati gedung milik sendiri.

Yang juga menarik, Yunky bisa menggunakan laporan rugi-laba perusahaan (laporan cash flow gerai) sebagai jaminan di bank untuk membuka cabang baru. “Cabang ke-3 dan ke-4 saya pakai pinjaman 100 % dari bank,” ujar pria yang gemar berbusana kasual ini. Kiat yang tentu saja menarik direplikasi. Yunky memberikan tip, pada bisnis waralaba yang biasanya sudah ada SOP jelas, keberhasilan tergantung pada soft competence. “Pemilik jangan hanya komando. Angkat-angkat barang juga harus ikut. Dengan karyawan harus ada personal touch,” katanya.

Jadi, kunci sukses bukan hanya kalkulasi, partisipasi sebagai entrepreneur juga mutlak.

pict-tabel-cermat-yunky1

(Sudarmadi, SWA edisi 16-26 Juli 2009)