Yang Berjaya Dipasar Mini

Saat ini, baru ada sekitar 6.000 minimarket dengan konsep chain. Potensinya bisa mencapai ratusan ribu.

Ma, Asti mau ke Indomaret. Asti mau beli susu dan sikat gigi.

Sebentar lagi, ya? Kalau Mama sudah selesai mencuci baju, kita pergi ke Indomaret.

Percakapan seperti itu sering kita dengar. Kalau kita perhatikan, mungkin obrolan tersebut terdengar biasa saja, tidak ada yang aneh. Kondisi tersebut tentu akan berbeda jika terjadi 10 tahun lalu. Kita belum akrab dengan yang namanya Indomaret. Dulu, mungkin kita pergi ke pasar tradisional atau warung sebelah rumah untuk membeli susu atau sikat gigi. Inilah berkah buat minimarket modern dan sekaligus juga kiamat bagi warung sebelah rumah dan pasar tradisional yang dikenal dengan pasar becek.

Realitas tersebut tidak bisa kita mungkiri. Dengan makin merangseknya minimarket hingga ke tengah-tengah permukiman, kita menjadi semakin mudah membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari. Daripada berbecek-becek plus buang waktu dan ongkos, kita lebih baik – dan lebih murah – membeli di minimarket yang ada di dekat rumah.

Mudah dan Hemat, itu moto kami. Kami adalah minimarket modern pertama di Indonesia,” ujar Laurensius Tirta Widjaja, Direktur Operasional PT Indomarco Prismatama, pemilik brand Indomaret. Indomaret adalah pioneer di segmen minimarket di mana gerai pertama mereka sudah beroperasi sejak November 1988 di daerah Ancol, Jakarta Utara. Dan kini, Indomarco semakin getol mengembangkan jaringan minimarket mereka.

Waktu berjalan dengan cepat. Setelah Sembilan tahun berdiri dan memiliki 300-an gerai, Indomarco mulai mewaralabakan brand minimarket mereka pada 1997. Selama Sembilan tahun, kami terus membuktikan minimarket kami bernilai jual dan diterima masyarakat, kata pria murah senyum ini.

Selanjutnya, barulah Indomarco berani melepas brand mereka. Permintaan untuk waralaba Indomaret pun membeludak. Hingga 30 September tahun ini, tercatat 2.944 gerai Indomaret di seluruh Indonesia dan hampir 50%-nya milik pewaralaba. Dengan pola kerja sama per lima tahun, sampai saat ini sudah banyak pewaralaba yang memperbarui kerja sama mereka. Ini membuktikan brand kami bisa memberikan keuntungan kepada investor, ujarnya menandaskan.

Kesuksesan Indomaret lantas diikuti PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT), pemilik brand Alfamart. Gerai pertama mereka berdiri berdiri pada 18 Oktober 1999 atau hanya berselang satu tahun sejak gerai pertama Indomaret berdiri.

Secara keseluruhan, saat ini baru ada sekitar 6.000-an minimarket dengan konsep chain (satu brand, tapi banyak lokasi nya). Padahal, potensinya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Jika dibanding Singapura, rasio antara minimarket dan jumlah penduduknya sekitar 1:11.000. Artinya, satu minimarket melayani sekitar 11.000 jiwa. Sementara itu, untuk di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang, dan Bekasi), rasionya 1:35.000. itu baru di Jabotabek, belum di daerah lain. “Bisnis minimarket di Indonesia masih terbuka lebar,” kata Ignatius Didit Setiadi, Corporate Communications Manager SAT.

Peluang besar ini pula yang mendorong minimarket dengan brand asing masuk ke Indonesia. Peluang besar ini pula yang mendorong minimarket dengan brand asing masuk ke Indonesia. Salah satunya adalah Circle-K. Meski baru mulai diwaralabakan pada 2006, ternyata gerai pertama Circle-K sudah berdiri sejak 15 januari 1986 di kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan.

Brand asal Texas, Amerika Serikat, ini dibawa ke Indonesia oleh PT Circleka Indonesia utama yang berkantor pusat di Bali. Tak mengherankan bahwa jaringan gerai mereka begitu banyak ditemukan di provinsi dengan wisatawan mancanegara tertinggi di Indonesia tersebut. Circle-k memang sengaja menyasar para wisatawan mancanegara yang sudah akrab dengan brand mereka. Meski harga di minimarket itu sedikit lebih mahal dari tempat lain, para turis tidak merasa keberatan, justru Circle-K memiliki nilai lebih karena beroperasi 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu.

Dibanding Indomaret dan Alfamart, Circle-K memiliki perbedaan. Jika kedua minimarket lokal cenderung menjual barang kebutuhan rumah tangga sehari-hari, Circle-K lebih tepat disebut sebagai convenience store. Produk yang dijual Circle-k adalah immediate consumption products dan fill-in product berupa makanan serta minimum plus sedikit barang-barang kelontong, jumlah item produk yang disediakan pun terbatas, Inilah yang membedakan mereka dengan peritel lain. Dengan sifat mendesak ini pulalah yang membuat bisnis tersebut menjadi sangat menguntungkan karena tingkat perputaran pendapatan menjadi tinggi.

Saat ini, jumlah convenience store di Indonesia terus meningkat. Pada 2003, jumlah outlet yang ada baru 102. Tahun lalu, angkanya terus meningkat menjadi 148 unit dan pada akhir tahun ini akan bertambah menjadi 200 gerai.

BEREBUT PASAR

Namun begitu, berbekal brand asing bukan jaminan bisa berkembang pesat. Jika dibanding Indomaret dan Alfamart, pertumbuhan gerai Circle-K masih kalah jauh. Sayangnya, pihak Circle-K tidak bersedia memberikan komentar karena kesibukan mereka menjelang akhir tahun.

Peluang bisnis minimarket yang besar ini juga dapat dilihat dari kata Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO). Hingga 2007, omzet bisnis ritel mencapai Rp. 57 triliun. Dari nilai tersebut, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh minimarket sebesar 19%, baru hipermarket yang mencapi 17%.

Bisnis Ritel – terutama minimarket adalah bisnis yang tahan banting karena selain memberikan pelayanan dan kemudahan dalam accessibility juga menawarkan barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari. Data Aprindo menunjukkan Indomaret masih memimpin bisnis minimarket dengan pangsa pasar sekitar 35%. Mereka tersebar di Jawa, Bali, hingga Sumatra. Sementara itu, Alfamart baru menyasar Jawa dan Lampung.

Menurut Laurensius, ada beberapa strategi yang diandalkan Indomaret untuk menjadi pemimpin pasar. yang utama adalah franchisee fee yang murah, hanya 36 juta untuk jangka waktu lima tahun, ujarnya.

Indomaret juga berusaha agar lokasi mereka berkonsep one stop shoping. Setiap gerai ada bisnis pendukung seperti Bank, ATM, dan restoran kecil. Yang tak kalah penting adalah kepuasan, kemudahan, dan kenyamanan bagi konsumen. Tanpa itu semua, kami bukan apa-apa, kata Laurensius.

Alfamart juga memiliki strategi dalam merebut pasar. Mereka terus berekspansi ke wilayah-wilayah yang memiliki potensi pasar. Mereka juga menyinergikan antara komunikasi dan marketing serta cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Itu pula yang membuat Alfamart mencoba mengembangkan gerai sebagai community store yang terintegrasi dengan lingkungan mereka. Itu artinya setiap toko Alfamart memiliki tanggung jawab sosial terhadap perkembangan lingkungan sekitar. Misalnya, ketika wilayah toko Alfamart ada kejadian gizi buruk, kami mencoba membantu dengan memberikan makanan tambahan. Kami juga mengupayakan warga lokal agar bisa menjadi karyawan Alfamart, kata Didit.

Untuk strategi komunikasi dan pemasaran yang terintgrasi, Didit menambahkan, pihaknya menciptakan event dan program. Dengan cara ini, brand image dan emotional bonding antara konsumen dan Alfamart bisa meningkat. Karena itu, program marketing, selain memiliki keunikan, juga mampu memberikan memorable experience kepada para pelanggan.

Terlepas dari semua argumen tersebut, penilaian siapa yang lebih unggul tetap berada di tangan masyarakat. Buat pemilik modal, tentunya beberapa hal itu bisa dijadikan patokan jika ingin menjadi pewaralaba brand-brand tersebut. Bagi para pembeli, jangan terjebak dengan promosi-promosi yang ada. Datang dan buktikan sendiri. Pengalaman adalah guru terbaik.

Hingga 2007, omzet bisnis ritel mencapai Rp. 57 triliun. Dari nilai tersebut, pertumbuhan tertinggi dicapai minimarket sebesar 19%. (Dikdik Taufik Hidayat, Bussines Week Indonesia, 3 Desember 2008)