Jaringan waralaba minimarket sudah sangat menggurita. Tapi, tawaran waralaba ini tetap menguntungkan. Syaratnya, pilih pewaralaba berpengalaman dan tentukan lokasi yang tepat.
Menimbang
tawaran waralaba minimarket Indomaret
Dengan kecepatan mencengangkan, gerai-gerai minimarket
bermunculan. Boleh taruhan, di setiap kompleks rumah-toko
alias ruko pasti ada minimal satu gerai toko kelontong
ini. Belum lagi yang bertebaran disepanjang ruas jalan
dan kompleks-kompleks perumahan di kota besar. Intinya,
gerai minimarket kian menggurita.
Lewat
pengamatan sekilas pandang saja, kita pasti bisa menebak;
siapa pemain utama di industri ritel kecil-kecil itu.
Benar, mereka adalah Indomaret dan Alfamart.
Sejak menawarkan pola waralaba pada 2002, PT Sumber Alfaria
Trijaya, pewaralaba Alfamart, mengaku telah memiliki 2.300
gerai. Artinya, jaringan ini naik dua kali lipat daripada
tiga tahun silam. Asal tahu saja, sekitar 30% dari total
gerai ini merupakan hasil skema waralaba.
Perkembangan Indomaret juga tidak kalah gesit. Hingga
akhir Januari lalu, jumlah gerai waralaba sudah mencapai
1.012 gerai. Adapun total gerai Indomaret mencapai 2.455
gerai. Tahun ini kami menargetkan menambah lagi
650 gerai baru, ujar Laurensius Tirta Widjaja, Direktur
Operasional PT Indomarco Prismatama, pewaralaba Indomaret.
Suburnya pertumbuhan minimarket tidak urung membuat kompetisi
di pasar modern semakin ketat. Pada akhirnya, ini
akan mendorong kompetisi harga, ujar Andre Vincent
Wenas, seorang konsultan manajemen dan usaha.
Kalau begitu, pertanyaannya sekarang adalah: apakah tawaran
waralaba minimarket masih menarik? Jawabannya: ya! Potensi
pasarnya selalu ada. Sebab, mau sedang krisis atau tidak,
konsumsi masyarakat itu tetap ada, kata Andre. Bahkan
konsumsi masyarakat biasanya melonjak setiap hari raya,
seperti Lebaran, Natal, atau Tahun Baru.
Jadi, jika memang ngebet ingin menjadi juragan toko kelontong
instan ini, Anda harus siap dengan kompetisi yang makin
ketat itu.
Selain itu, Andre memberi nasihat untuk memilih pewaralaba
yang sudah berpengalaman. Ciri-cirinya, gerainya terlihat
hidup dan bisa memberikan harga terbaik untuk konsumennya.
Cari tahu juga, apakah pewaralaba bisa memberikan margin
terbaik untuk terwaralabanya.
Nah, untuk memudahkan Anda menimbang-nimbang, mari kita
tengok skema tawaran waralaba minimarket dari Indomaret
berikut ini:
Indomaret
Mulai tahun ini, Indomaret akan lebih berkonsentrasi melebarkan
tentakel bisnisnya ke luar Jawa, terutama Sumatra dan
Bali. Di sana persaingannya belum ketat, kata
Laurensius Tirta.
Demi memperluas jaringan, Indomarco Prismatama rela menurunkan
franchise fee dari Rp 82.5 juta menjadi Rp 36
juta saja untuk mendapatkan hak waralaba selama lima tahun.
Biar lebih terjangkau. Sebab, peminat franchise
kami banyak dari kalangan menengah, ujar Laurensius
Tirta.
Selain itu, Indomarco menawarkan tiga skema waralaba.
Pertama, waralaba murni. Artinya terwaralaba benar-benar
membuka toko baru. Tempatnya boleh menyewa, boleh milik
sendiri. Dengan skema ini, terwaralaba mesti menyiapkan
modal antara Rp 250 juta hingga Rp 300 juta. Dana ini
untuk keperluan franchise fee, perijinan, renovasi,
dan pembelian peralatan toko serta gudang. Tapi itu belum
termasuk sewa atau beli tempat. Nah untuk luas area toko,
Indomarco mematok kisaran 120 m2 hingga 150 m2
Skema waralaba lain adalah menjadi terwaralaba dengan
cara mengambil alih (take over) gerai Indomaret
milik Indomarco. Jika memilih skema ini, biayanya lebih
mahal, yakni di atas Rp 300 juta. Maklum, terwaralaba
tidak perlu lagi mencari atau menyediakan tempat, sebab
bangunan toko sudah tersedia, bahkan toko sudah beroperasi
dengan baik.
Skema yang terakhir adalah menjadi terwaralaba dengan
cara mengubah toko atau minimarket yang sudah ada menjadi
gerai Indomaret. Biasanya, toko tersebut kurang berhasil.
Jadi, tugas Indomaret membuatnya menjadi sehat dan menguntungkan.
Nah, untuk jenis ini biasanya investasinya di bawah Rp
300 juta.
Untuk semua skema waralaba tersebut, Indomarco memperkirakan,
terwaralaba akan balik modal dalam tempo antara 30 bulan
hingga 40 bulan.
Enaknya, terwaralaba Indomaret tidak perlu repot mengurusi
sendiri tokonya. Indomarco bakal menangani segala tetek-bengeknya.
Jadi, terwaralaba tinggal melakukan pengawasan saja.
Sebagai imbalan, Indomarco akan menarik royalty fee
dari omzet tiap bulan. Jika omzetnya Rp 175 ke bawah,
kami tidak mengenakan royalty fee, kata
Laurensius berpromosi. Baru, jika omzet toko Anda antara
Rp 175 juta hingga Rp 200 juta royalty fee-nya
2%. Untuk omzet antara Rp 200 juta hingga Rp 250 juta
kena royalty fee 3%. Selebihnya kena royalty
fee 4%.
Harap diingat, cara pemungutan biaya royalti waralaba
Indomaret itu bertingkat. Jadi tidak dikalikan dengan
total omzet. Contohnya, anda punya omzet Rp 300 juta.
Cara menghitung royaltinya, Rp 175 juta bebas biaya royalti.
Lalu, (Rp 25 Juta x 2%) + (Rp 25 Juta x 3%) + (Rp 50 juta
x 4%). Jadi, total biaya royaltinya Rp 4,25 juta.

Omzet Miliaran dari Indomaret
Bagi Ricky Irawan, bisnis dan investasi bukan dunia asing.
Ia juga sudah akrab dengan risiko kehilangan uang. Maklumlah,
sudah lebih dari satu dasawarsa ini ia menggeluti bisnis
properti. Di luar itu ia piawai mengatur portofolio sahamnya.
Situasi pasar yang naik turun bak roller coaster
tak membuatnya gentar.
Toh, pria kelahiran 1962 ini tetap merindukan suatu bisnis
yang relatif aman. Setelah mencari informasi sana-sini,
Ricky pun terpikat untuk mengikuti waralaba Indomaret.
Skema waralaba Indomaret ia anggap pas dengan kriteria
investasi idamannya, yakni relatif aman, tidak menyita
waktunya, tapi tetap menghasilkan untung. Maklum, Indomaret
sudah mengurus segala sesuatunya. Ia tinggal menunggu
datangnya laporan tiap bulan. Saya memang tidak
punya banyak waktu, aku pebisnis ini.
Jadilah, sejak 10 tahun silam ia resmi menjadi terwaralaba
Indomaret. ketika itu ia menggelontorkan dana tak kurang
dari Rp 500 juta dan mempekerjakan 10 karyawan. Keputusan
tersebut terbilang berani. Sebab, ketika itu Indonesia
masih dalam situasi krisis ekonomi. Dus, daya beli masyarakat
tentu masih memble. Tidak heran, Indomaret memperkirakan
dirinya baru bisa kembali modal dalam tempo 43 bulan.
Tapi insting bisnisnya terbukti tepat. Kurang dari tiga
tahun, modalnya sudah kembali.
Berbekal pengalaman itu, Ricky tak kapok-kapok menambah
gerai. Kini, ia mengaku telah memiliki lima gerai, yang
tersebar di Bekasi, Cianjur, Cibinong (2 gerai), dan Serang.
Rata-rata penjualan per hari mencapai Rp 8 juta,
ungkap Ricky tersenyum senang. Artinya sebulan Ricky bisa
memanen omset lebih dari Rp 1 miliar.
Memang, namanya bisnis ada pasang surutnya juga. Dulu,
kisah Ricky, satu gerainya pernah merugi gara-gara munculnya
banyak pesaing. Untunglah, sekarang Indomaret menempatan
seorang petugas khusus. Jadi, masalah seperti itu bisa
ada jalan keluarnya. (Kontan,
Februari-Maret 2008, Asih Kirana Wardani, Handiman)

