Menjadi Entrepreneur, Siapa Takut?

Meski sudah ada SOP-nya, Jiwa entrepreneurship tetap dibutuhkan. apa saja rahasia menjadi terwaralaba yang sukses? Tak disangka, saat antre mengambil uang pensiun di sebuah bank, seorang Asep Gosiman justru menemukan peluang bisnis yang luar biasa besar.

Ia bertemu kawan lamanya, sesama pensiunan (eks) Bank Bumi Daya (BBD) yang berhasil menjalankan bisnis waralaba Indomaret. ”Biasalah, berawal dari bertanya kabar, eh malah dapat inspirasi bisnis,” kenang Asep.

Pertemuan tahun 2000 itu membuat niat mantan wakil kepala BBD cabang Tokyo, Jepang, ini untuk menjadi entrepreneur makin berkobar. Asep pun menghubungi PT Indomarco Prismatama (IP), mengutarakan keinginannya untuk menjadi terwaralaba. setahun kemudian, setelah menggelontorkan dana Rp 825 juta untuk menyediakan lokasi, peralatan, serta membayar segala macam fee dan perizinan, gerai Indomaret milik Asep pun beroperasi di kawasan Cijantung, Jakarta Timur.

Menurut Asep, menjalankan bisnis waralaba ternyata mudah. Pasalnya, IP memberi standard operating procedure (SOP) yang mudah diikuti, seperti semua sistem operasi terpusat, terpadu, terintegrasi, dan online. sebagaimana ditegaskan Markus Hendarto, manajer senior pengembangan bisnis dan waralaba PT Indomarco Prismatama, ”Paket sistem yang kami berikan sudah teruji selama lebih dari sepuluh tahun.” Ketika berdiri pada 1988, lanjut Markus, Indomaret belum menganut sistem waralaba. Baru pada 1997 mereka resmi mewaralabakannya.

Selain itu, Asep merasa diuntungkan dengan sistem one day service untuk pengiriman barang: pagi pesan, sore barang sampai di toko. ”Saya dulu pernah berdagang kelontong. Jadi tahu persis repotnya menyediakan stok barang, memberi harga, mendisplay toko, dan sebagainya,” urai Asep. Ia sadar, bisnis ritel amat bergantung pada pasokan barang. Kalau barang yang dicarinya tidak ada, konsumen dengan mudah melenggang ke toko lain.

Sistem waralaba juga membuat upaya pengembangan bisnis menjadi lebih cepat. ”Dengan sistem waralaba, Indomaret bisa mengembangkan usaha sekaligus mengajak masyarakat menjadi entrepreneur,” kata Laurensius Tirta Widjaja, direktur operasional PT Indomarco Prismatama. Saat ini Indomaret memiliki 1146 gerai, dengan 536 di antaranya berbentuk waralaba.

Lain lagi pengalaman Antarina S.F. Amir. Pemilik Lisensi dan managing director High Scope (HS) Indonesia ini merasakan mudahnya berbisnis dengan sistem waralaba. Pada 1996 ia memboyong HS ke Indonesia dengan membeli hak waralaba-nya dari Singapura, dan empat tahun kemudian Antarina memperoleh master lisensi HS langsung dari AS. Dengan begitu, ia berhak mewaralabakan HS untuk kawasan Asia Pasifik. ”Tahun 1996 itu saya mengawalinya lewat satu preschool di Pondok Indah dengan 100 murid,” kenang Rina. Kini, HS memiliki tujuh sekolah (TB Simatupang, Alfa Indah, Kelapa Gading, Kuningan, Bintaro, Pluit, dan Medan) dengan 1.500-an murid. (Warta Ekonomi No.13 Tahun XVII, 27 Juni 2005)