Meneg BUMN, Sugiharto : ”Berawal dari Gaji Batur”

Selain Menjabat sebagai menteri, mantan eksekutif top ini ternyata juga seorang pengusaha di berbagai bidang usaha. Percaya atau tidak semuanya berawal dari tiga bulan gaji sebagai pembantu rumah tangga.

Pada sebuah nama melekat doa orang tua kepada anaknya. Nama Sugiharto, misalnya terdiri dari dua suku kata bahasa Jawa. Sugih berarti kaya sedangkan arto berarti uang. Sugiharto kini menjabat menjadi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara ( Meneg BUMN ). Sebagai menteri jelas Sugiharto sugih. Tapi, jangan menganggap dia baru kaya setelah menjadi menteri. Sebagai salah satu eksekutif di perusahaan minyak Medco Energy, konon, gajinya mencapai Rp 500 juta per bulan. Bukan hanya itu. Diam-diam dia juga seorang”konglomerat. Mari kita tengok kerajaan bisnis miliknya.

Pada 1990 dia membuka gerai cuci cetak film Fuji. Saat itu dia bekerja sebagai eksekutif di Chemical Bank dan Bankers Trust Company New York.”Saya pernah menjadi pedagang asongan, maka otak dagang saya terus terpakai, ungkap Ayah lima anak ini. Makin besar gaji yang diterima nya saban bulan, makin leluasa pula Sugiharto menyisihkan pendapatannya untuk membuka berbagai usaha. Kini gerai cuci cetaknya telah berkembang menjadi empat gerai, di Bekasi dan Bandung.

Siapa yang menyangka Sugiharto juga seorang peminat bisnis waralaba ? Saat ini Sugiharto juga memiliki satu gerai minimarket Indomaret di kawasan Cibinong, Jawa Barat. Dia juga membuka satu gerai Es Teler 77 dan satu gerai Restoran Pasti Enak di Lippo Karawaci, Tangerang. Modal yang ia keluarkan untuk membuka satu gerai Indomaret sekitar Rp. 300 juta. Untuk mendapatkan waralaba Es Teler 77 memerlukan modal awal sekitar Rp 350 juta.

Selain menjadi pengusaha waralaba, Sugiharto juga seorang bankir. Anda tak perlu heran kalau dia tak pernah kelihatan bareng-bareng bankir kawakan papan atas. Maklum, banknya hanya bank perkreditan rakyat ( BPR ) yang beroperasi di Pasar Induk Cibinong. Menurutnya, bank itu kini memiliki aset sekitar Rp 3 miliar.

Tak berbeda dengan Mochtar Riady yang juga merangsek sektor properti selain menjadi bankir, Sugiharto pun demikian. Tapi, sekali lagi, jangan mencoba mencari proyek propertinya di pameran-pameran realestat terkemuka. Soalnya, dia mengembangkan dua proyek propertinya hanya di atas luas selahan 1.000 m2 dan 600 m2 . Sugiharto membangun rumah kontrakan untuk para karyawan yang bekerja di Bekasi dan sekitarnya.

Selain bergerak di sektor ritel, keuangan, dan properti, Sugiharto juga pengusaha komoditas. Dia memiliki kebun kelapa sawit di Sumatra dan membuka satu toko grosir di Pasar Induk Cibitung.”Saya ini petani sekaligus pedagang. Itulah usaha-usaha sampingan saya, katanya terus terang, Oh, ya, hampir ketinggalan. Sugiharto juga ikut menyertakan modal pada dua perusahaan teknologi informasi ( TI ) kecil-kecilan : E-AIT Investment dan IBUTeledukasi.

Meski tak sebesar dan semegah konglomerasi Aburizal Bakrie yang kini menjadi koleganya di kabinet, keanekaragaman bisnis Sugiharto tak lepas dari prinsip penyebaran risiko. Strategi itu terbukti jitu. Ketika krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998 silam , bisnis BPR-nya merugi sampai Rp. 200 juta. Tapi, pada saat yang sama gerai Indomaret-nya tetap mampu memberi keuntungan 9 % sampai 20 % dari total omzet per tahun. Begitu juga penyertaan saham di bisnis TI mampu memberinya keuntungan sebesar 6,5 % dari laba perusahaan yang mencapai 2 miliar.

Mungkin Anda heran, sebagai eksekutif terkemuka dia masih sempat-sempatnya mencari”uang recehan dengan bisnis kecil-kecilan semacam itu.”Sejak kecil saya berfikir bahwa kelak jika saya berhenti bekerja, saya sudah terbiasa hidup dengan cost of living yang tinggi. Padahal, sebagai pegawai swasta saya tidak terima pensiun. Saya takut miskin lagi, Jelas Sugih tanpa sungkan.

Tak perlu khawatir. Doa orang tua yang tersirat pada namanya jelas makbul. Komisi pemeriksaan Kekayaan Pejabat Negara menempatkan Sugih sebagai menteri tersugih ketiga dengan kekayaan sekitar Rp 40-an miliar.

Belajar di Parkiran Bioskop

Langkah Sugih ke puncak karier tak semudah membalikan telapak tangan. Pada saat duduk dibangku kelas dua SMP Taman Siswa, Kemayoran-Jakarta Pusat, Sugiharto juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Saban hari dia bertugas menyiram kebun, mencuci piring dan mencuci baju. Pada saat itulah otak dagangnya mulai berputar.”Saya mulai belajar berdagang, kenangnya.

Sembari menjalankan tugas sebagai batur, dia membuat kotak dari bekas peti untuk wadah jualan rokok klobot. Berbekal modal Rp 7.500 dari gaji tiga bulan sebagai pembantu dia mulai berjualan rokok dekat pangkalan ojek dekat tempatnya bekerja. Menjadi pedagang asongan bukan satu-satunya pekerjaan informal yang pernah digelutinya. Ketika SMA dia menambah penghasilannya dengan menjadi tukang parkir bioskop Taruna, Tanjung Priuk, Jakarta Utara.

Dia teringat suatu malam saat musim ulangan, wali kelasnya menonton film bersama suaminya di bioskop Taruna. Sang guru takjub dan berlinang melihat muridnya tengah tekun membaca buku di bawah cahaya lampu seadanya di halaman bioskop. Melihat semangat belajarnya, keesokan harinya sang guru bercerita di depan kelas. Kenangan itu selalu terlintas di benaknya.”Saya tak pernah melupakan jasa para guru, ujarnya.

Setamat SMA baru dia merasakan kerja formal di kantor akuntan publik SGV Utomo dan Drs. Utomo Mulia & Co. disana Sugiharto mulai meniti kariernya sebagai eksekutif. Sembari bekerja dia mengambil kuliah di Universitas Jayabaya. Tamat dari sana dia juga kuliah di Universitas Indonesia. Setelah itu kariernya sebagai profesional seolah tak terbendung. Tujuh tahun lamanya Sugiharto bekerja di institusi keuangan Chemical Bank dan Bankers Trust Company New York dengan gaji awal US$6.500. Tahun 1991 secara pribadi Arifin Panigoro mengajak Sugih bergabung ke Medco. (KONTAN, 25 April 2005)